OLEH : K. DHOFIR SUHAIMI
Agar hubungan sesama murid tetap terjalin dengan baik, hendaknya harus menjauhkan prasangka jelek dari dalam hati, kemudian di isi dengan prasangka yang baik. Sebab orang islam itu menjadi kaca cermin bagi orang islam yang lain, jika orang islam melihat cela pada diri orang islam yang lain, jangan tergesa-gesa mencela apalagi menyiarkan kepada orang lain. Sebab kadang-kadang perbuatan cela yang tampak pada orang lain itu sebenarnya perbuatan cela yang ada pada diri orang yang melihat sendiri. Bagaikan kita melihat kaca cermin, sebenarnya yang kelihatan bores itu adalah orang yang melihat cermin, bukan cerminnya yang bores.
Rosululloh SAW telah bersabda yang artinya, ’’barang siapa menutupi celanya orang islam lain, maka ALLOH SWT akan menutupi (mengampuni) celanya besok di hari kiamat. Dan barang siapa yang membuka cela orang lain, maka ALLOH SWT akan membuka celanya di dunia ini, sehingga akan di perlihatkan celanya di dalam rumahnya’’. (H.R. Ibnu Majjah).
HIKAYAH : Ada seorang pedagang bernama Hatim bin Alwan. Ketika beliau berada di dalam kiosnya yang ada di dalam pasar, ada anak gadis yang masuk ke dalam kios beliau. Belum sampai menyampaikan apa yang akan di beli, anak gadis tersebut kentut bersuara, akhirnya Hatim bin Alwan melihat
wajah anak gadis itu tidak tampak berseri-seri, tapi kelihatan pucat, bibirnya merah kehitam-hitaman. Di dalam hati beliau berbunyi, ’’anak gadis ini kelihatan pucat, berarti merasa malu karena kentut yang bersuara di hadapan saya. Solusi apa yang terbaik bagi saya saat ini’’. Akhirnya beliau memutuskan untuk berpura-pura dungu (budek/tidak bisa mendengar). Terbukti anak gadis itu bertanya kepada Hatim bin Alwan tentang harga sesuatu yang akan di beli, oleh beliau di jawab dengan jawaban yang jauh dari pertanyaan. Sampai berkali-kali tetap saja begitu. Setelah mengetahui kalau jawaban Hatim bin Alwan jauh dari pertanyaan, anak gadis tersebut menyangka bahwa pemilik toko adalah orang yang dungu, kalau begitu Alhamdulillah saya kentut dia tidak mendengar. Akhirnya wajah anak gadis tersebut menjadi berseri-seri seperti aslinya karena merasa celanya tidak ketahuan oleh pemilik toko. Bersamaan dengan riang gembiranya anak gadis tersebut, ALLOH SWT mengangkat derajat Hatim bin Alwan menjadi kekasih ALLOH SWT (Waliyulloh) berkat di terimanya amal bathin berupa menutupi celanya anak gadis yang tidak sengaja kentut di hadapan beliau. Beliau menjadi wali dengan amal pura-pura tidak mendengar, maka beliau populer dengan sebutan Hatim Al Ashom, yang artinya Hatim yang budek.
TANBIH : Perlu kita renungkan, anak gadis yang kentut tersebut bukan pacarnya, bukan kenalan Hatim bin Alwan. Beliau berani berkorban harga diri dengan pura-pura tidak mendengar di hadapan anak gadis yang tidak ada hubungan apapun.Umpama beliau mencemooh kepada anak gadis tersebut tidak akan berjumpa lagi. Tetapi beliau sangat murah hati untuk berkorban perasaan. Apalagi kita terhadap orang islam yang ada hubungannya, apalagi terhadap sesama murid dari Mursyid.
Rabu, 26 September 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar